Center of Eastern Indonesian Studies (CEIS)
CEIS Center of Eastern Indonesian Studies (CEIS)
Kembali ke Berita

CEIS Resmi Diluncurkan, Komitmen Perkuat Tradisi Riset di Indonesia Timur

16 August 2026 Miptah Berita

LOMBOK BARAT — Lembaga Center of Eastern Indonesian Studies (CEIS) resmi diluncurkan di Coffee Daun Melayang, Telagawaru, Lombok Barat, pada 3 Oktober 2024. Kehadiran lembaga ini menandai langkah baru dalam pengembangan riset dan tradisi akademik, khususnya terkait berbagai persoalan di kawasan Indonesia Timur.

Direktur CEIS, Miptahudin Khairi, mengatakan CEIS telah berdiri sejak 2022 dengan fokus utama mengembangkan kegiatan riset mengenai wilayah Indonesia Timur.

Menurutnya, salah satu langkah awal CEIS dalam memperkenalkan eksistensinya kepada publik dilakukan melalui program Kelas Metodologi Vol. 1.

“CEIS berdiri sejak tahun 2022 lalu dengan tujuan pengembangan riset di Indonesia Timur. Sebagai langkah awal untuk menunjukkan eksistensinya adalah dengan mengadakan Kelas Metodologi Vol. 1,” ujarnya.

Sementara itu, CEO CAPITALL Press Nusantara sekaligus penggagas CEIS, Ishak Harianto, mengungkapkan bahwa gagasan pembentukan lembaga tersebut berangkat dari kegelisahan terhadap minimnya ruang diskusi dan tradisi menulis di kalangan mahasiswa maupun dosen.

Ia berharap berbagai program CEIS ke depan dapat ikut menghidupkan kembali atmosfer akademik di Lombok dan Nusa Tenggara Barat.

“Kami melihat minimnya gairah diskusi dan menulis di kalangan mahasiswa dan dosen. Sehingga dengan program-program CEIS ke depan, dapat meramaikan suasana akademis di Lombok dan NTB pada umumnya,” tuturnya.

Dukungan terhadap kehadiran CEIS juga disampaikan peneliti Institute of Southeast Asian Studies (ESAIs) sekaligus salah satu penggagas CEIS, M. Said.

Menurut Said, CEIS memiliki peluang untuk berkembang menjadi salah satu pusat aktivitas riset dan tradisi akademik di Lombok dan NTB.

Ia berharap CEIS dapat menjadi episentrum riset yang menghadirkan ruang bagi akademisi, mahasiswa, peneliti, dan masyarakat untuk mendiskusikan berbagai persoalan strategis.

“CEIS akan membangun pusat tradisi akademis seperti halnya di Yogyakarta, yang dikenal banyak melahirkan sarjana handal,” ujarnya.

Said juga berharap CEIS mampu menghadirkan terobosan baru dalam bidang penelitian, terutama penelitian yang mengangkat berbagai persoalan sosial, ekonomi, politik, budaya, lingkungan, pendidikan, serta isu pembangunan yang berkembang di Indonesia Timur.

Peluncuran CEIS sekaligus menjadi momentum untuk memperkuat ekosistem pengetahuan di NTB. Lembaga ini diharapkan tidak hanya menjadi ruang produksi penelitian, tetapi juga menjadi jembatan antara dunia akademik, masyarakat, pemerintah, dan berbagai pemangku kepentingan dalam memahami serta mencari solusi atas persoalan di kawasan Indonesia Timur.

Dengan fokus tersebut, CEIS diarahkan untuk membangun tradisi riset yang lebih kuat, terbuka, dan berkelanjutan sekaligus memperluas kontribusi akademisi dan peneliti lokal dalam menghasilkan pengetahuan tentang Indonesia Timur.

 

Bagikan Berita Ini: